Friday, March 4, 2011

Sepenggal Kisah Up Grading

Sabtu, 26 Februari 2011


Dinginnya udara pagi yang menembus tulang bekas hujan semalam tidak menyurutkan semangat kami hari itu. Semangat untuk meng "up grade" kapasitas kami sebagai pengurus HIMA. Semangat untuk berperan penting dalam hari bersejarah HIMA Adp.

Matahari sudah menampakkan sinarnya, jam 10 waktu FISE, kami berkumpul bersiap menuju Bumi Indah Asri Godean sebagai tempat tujuan. Rona-rona ceria dari wajah tiap pengurus menjadi pemandangan yang dominan waktu itu. Rona penuh harap dan semangat yang tak lama kemudian sedikit berubah seiring datangnya sebuah truk pasir. Truk yang akan membawa kami ke tempat tujuan, Bumi Indah Asri Godean. Terik matahari dan semilir angin mengiringi perjalanan bersejarah kami siang itu. Untung saja banyak humor-humor konyol ala mahasiswa yang terdengar menggelitik bias mengurangi rasa panas yang kami alami.

Semangat kami kian luntur mengingat lamanya kami harus menempati truk pasir di tengah terik matahari. Semangat yang semakin luntur setelah sampai dan tahu ternyata Bumi Indah Asri Godean tidak seindah dan seasri yang diharapkan. Rasa lelah, kecewa hampir membunuh semangat kami. Tapi segera kami sadar, kami tidak mencari itu dalam perjalanan kami kali ini. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus dicari daripada harus merenungi bahkan meratapi keadaan kami saat itu. Setelah melihat semua yang ada, kami pun sepakat disini kami akan mencari tahu apa itu arti kebersamaan dan kesederhanaan.

Tenggelamnya mentari di ufuk barat menyudahi materi dan kegiatan yang kami lalui sore itu. Setelah sholat, tilawah dan rehat sejenak, kami melanjutkan pembahasan proker yang ter “pending” sore tadi. Tukar pikiran dan pendapat yang di selingi gelitikan-gelitikan pendingin suasana mewarnai kegiatan kami malam itu. Sampai akhirnya kami harus melewati sebuah acara unik nan asyik dengan nama “Malam Cenat-cenut”. Tanpa membawa penerangan kami dituntut untuk mencari slayer yang disebar panitia di sekitar arena up grading.

Sepintas terlihat beberapa rekan kami berlaku curang dengan membawa alat penerangan saat kegiatan ini. Dan para DPO tidak tinggal diam melihat kelakuan para juniornya. Singkatnya, hanya 7 dari 35 orang yang berhasil menemukan slayer tanpa bantuan alat penerangan. Kami dibagi menjadi tiga kelompok saat itu. Kelompok pertama terdiri dari tujuh orang yang berhasil menemukan slayer tanpa penerangan, kelompok kedua terdiri dari orang yang tidak menemukan slayer dan kelompok terakhir diisi oleh rekan-rekan yang menemukan slayer dengan bantuan penerangan.


Tanpa basa-basi kelompok kedua yang gagal dalam kegiatan “disemprot” oleh DPO yang tidak lama kemudian banting stir “menyemprot” kelompok ketiga. Kelompok pertama yang diduga aman ternyata juga tidak dapat terhindar dari “semprotan” DPO karena sebagian besar dari kami berperilaku tidak sepantasnya sebagai pengurus hima dalam setengah hari kegiatan up grading berlangsung. Rasa takut dan bersalah menyelimuti setiap perasaan kami saat itu. Kalimat-kalimat bentakkan yang diucapkan DPO bagaikan pisau yang menyayat perasaan kami untuk menggores hati kecil kami agar kami sadar apa yang telah kami lakukan itu salah dan tidak sepantasnya dilakukan oleh pengurus HIMA.

Dingin dan heningnya malam menjadi efek yang sangat mendukung “drama” yang terjadi malam itu. . . . .

(bersambung)




0 komentar:

Post a Comment